budaya-kearifan-lokal

Mesianisme : Kerinduan Universal akan Pemimpin yang Adil

Sabtu, 11 April 2026 | 14:46 WIB
Teknologi Hijau untuk dunia (Sumber foto: Ilustrasi AI)

SUARA BELANTARA BORNEO.COM--Sejak dahulu, manusia di berbagai belahan dunia memiliki satu kerinduan yang sama: hadirnya seorang tokoh yang mampu membebaskan mereka dari penderitaan. Kerinduan itu tidak hanya muncul dalam satu budaya atau satu agama saja, tetapi hadir secara luas dalam kepercayaan lokal, tradisi nasional, hingga kitab-kitab suci. Inilah yang dikenal sebagai konsep mesianisme: harapan akan seorang penyelamat.

Di Nusantara, khususnya dalam budaya Jawa, dikenal konsep Ratu Adil seorang pemimpin yang akan datang membawa keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Sosok ini dipercaya akan mengakhiri penderitaan, menghapus ketidakadilan, dan membangun kehidupan yang lebih baik bagi semua orang.

Di Kalimantan, khususnya dalam masyarakat adat Dayak, juga dikenal gagasan serupa. Sejak masa lalu, bahkan sejak sekitar tahun 1950-an dalam cerita-cerita lisan dan kepercayaan lokal, ada harapan akan figur yang akan membebaskan masyarakat dari kebodohan dan kemiskinan. Ini bukan sekadar mitos, tetapi refleksi dari kebutuhan nyata masyarakat akan perubahan dan keadilan.

Jika kita melihat lebih luas lagi, konsep ini juga hadir dalam agama-agama besar dunia. Dalam iman Kristiani, Yesus Kristus dipahami sebagai penyelamat yang membebaskan manusia dari dosa. Dalam Islam, dikenal sosok Isa Al-Masih yang juga memiliki peran penting dalam membawa kebenaran dan keadilan bagi umat manusia.

Semua ini menunjukkan satu hal penting: bahwa kerinduan akan penyelamat adalah universal. Ia tidak dibatasi oleh suku, agama, atau wilayah. Ia lahir dari pengalaman manusia yang sama menghadapi ketidakadilan, kemiskinan, dan keterbatasan hidup. Menjadi pribadi yang membawa perubahan, yang mengangkat sesama dari keterpurukan, dan yang menciptakan keadilan dalam lingkungannya.

Di sinilah pentingnya kearifan lokal. Masyarakat adat Dayak, misalnya, telah lama memiliki prinsip hidup yang sangat mendalam: menjaga alam, hidup rukun dengan sesama, dan percaya kepada Tuhan. Alam tidak boleh dirusak, karena alam adalah sumber kehidupan. Sesama manusia harus saling membantu, karena kehidupan tidak bisa dijalani sendiri. Dan Tuhan menjadi dasar dari semua nilai tersebut.

Nilai-nilai ini sebenarnya sejalan dengan konsep keteraturan alam semesta yang saya usung sebagai filosofi alam. Bahwa kehidupan ini memiliki tiga hubungan utama: manusia dengan alam, manusia dengan sesama, dan manusia dengan Tuhan. Ketika ketiga hubungan ini berjalan seimbang, maka terciptalah kehidupan yang harmonis.

Sebaliknya, ketika salah satu rusak misalnya alam dieksploitasi, manusia saling menindas, atau nilai spiritual diabaikan maka yang terjadi adalah kekacauan: kemiskinan, ketidakadilan, dan penderitaan yang berkepanjangan.

Oleh karena itu, kebutuhan akan “tokoh pembebas” sebenarnya adalah kebutuhan akan pemimpin yang mampu mengembalikan keseimbangan tersebut. Pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijaksana secara moral dan spiritual. Pemimpin yang tidak hanya membangun ekonomi, tetapi juga menjaga alam dan memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.

Menariknya, bahkan dalam pemikiran modern seperti yang dikembangkan oleh Karl Marx, terdapat gagasan tentang pembebasan manusia dari ketimpangan ekonomi. Meskipun pendekatannya berbeda, esensinya tetap sama: keinginan untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara.

Pada akhirnya, semua ini membawa kita pada satu kesadaran besar:
bahwa mesianisme bukan hanya tentang menunggu, tetapi tentang memahami arah.

Bahwa dunia ini memang membutuhkan perubahan. Bahwa manusia tidak diciptakan untuk hidup dalam kebodohan dan kemiskinan. Dan bahwa harapan akan keadilan telah lama tertanam baik dalam budaya, dalam kitab suci, maupun dalam hati manusia itu sendiri.***

 

Tags

Terkini