filosofi

Kongres Internasional Literasi Dayak 2026: Membangun Peradaban dari Akar Budaya

Jumat, 17 April 2026 | 09:14 WIB
Semangat kebudayaan dan literasi bersatu dalam Kongres Internasional Literasi Dayak I & The 1st Dayak Book Fair 2026 di Sekadau, 15–16 Mei 2026 (Sumber foto: Literasi Dayak)

SUARA BELANTARA BORNEO.COM--Sebuah langkah besar dalam perjalanan kebudayaan dan intelektualitas masyarakat Dayak ditandai melalui penyelenggaraan Kongres Internasional Literasi Dayak I & The 1st Dayak Book Fair 2026 yang akan berlangsung di Sekadau pada tanggal 15–16 Mei 2026. Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan akademik atau pameran buku, melainkan sebuah gerakan kebudayaan yang berusaha mengangkat identitas Dayak ke panggung yang lebih luas baik nasional maupun internasional.

Literasi dalam konteks ini tidak dimaknai semata sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi sebagai kesadaran kolektif untuk memahami, merawat, dan mengembangkan pengetahuan yang hidup dalam masyarakat Dayak. Dari tradisi lisan, nilai adat, hingga pemikiran kontemporer semuanya menjadi bagian dari kekayaan literasi yang ingin diangkat dan diperkenalkan kepada dunia.

Kehadiran berbagai tokoh, akademisi, dan praktisi dalam kongres ini menunjukkan bahwa kebudayaan Dayak memiliki daya tarik dan relevansi yang kuat. Diskusi-diskusi yang terbagi dalam beberapa panel mengangkat tema-tema penting, mulai dari identitas budaya dalam konteks regional, keterkaitan literasi dengan ekonomi dan publikasi, hingga regenerasi pengetahuan bagi generasi muda. Semua ini menegaskan bahwa literasi bukan hanya soal masa lalu, tetapi juga tentang masa depan.

Kongres ini juga menjadi ruang pertemuan antara pemikiran tradisional dan modern. Di satu sisi, nilai-nilai kearifan lokal tetap dijaga sebagai fondasi. Di sisi lain, ada dorongan untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman menggunakan literasi sebagai alat untuk memperkuat posisi masyarakat Dayak dalam dunia yang terus berubah.

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir kesadaran baru bahwa membangun peradaban tidak harus meninggalkan akar budaya. Justru dari akar itulah kekuatan sejati muncul. Masyarakat Dayak tidak hanya menjadi objek dari perubahan, tetapi subjek yang aktif menentukan arah masa depan mereka sendiri.

Lebih jauh lagi, kongres ini menjadi simbol bahwa kebudayaan adalah kekuatan. Bahwa melalui tulisan, buku, dan diskusi, sebuah komunitas dapat menyuarakan identitasnya, memperjuangkan keadilannya, dan membangun kesejahteraannya. Literasi menjadi jembatan menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu kesatuan yang utuh.

Kongres Internasional Literasi Dayak 2026 bukanlah akhir, melainkan awal dari gerakan panjang. Gerakan untuk memastikan bahwa suara Dayak terus hidup, berkembang, dan didengar oleh dunia. Karena pada akhirnya, peradaban yang kuat adalah peradaban yang mengenal dirinya sendiri dan berani melangkah ke depan dengan identitas yang kokoh.***

Tags

Terkini

Mencari Dayak dari Tepian Mahakam, Kalimantan Timur

Senin, 24 November 2025 | 09:57 WIB